What Makes a Leader?
October 5, 2008 by my-only-hope
Hingga saat ini banyak ilmuwan masih membicarakan dan mendiskusikan tentang seorang pemimpin apakah seseorang memang lahir sebagai pemimpin atau bisa diciptakan menjadi pemimpin. Banyak pro kontra tentang ini tetapi dalam artikel What Makes A Leader, Daniel Goleman sebagai pakar Emotional Intelligence melihat bahwa kemampuan menjadi seorang pemimpin ternyata bisa dipelajari walaupun tidak dalam waktu cepat dan butuh proses untuk menjalaninya. Selain itu Daniel Goleman menemukan hubungan erat antara EQ dengan keberhasilan bisnis yang bisa diukur. Seorang pemimpin yang paling efektif dalam bertidak mampu menggunakan EQ-nya tanpa mengabaikan IQ dan technical skill yang juga berguna. Seseorang manajer yang terlatih dengan baik, memiliki daya analisis dan mampu menghasilkan ide-ide cemerlang tanpa EQ tidak akan menjadi pemimpin yang hebat. Ada beberapa komponen penting dalam mempelajari EQ yaitu self-awareness, self-regulation,motitvation, empathy, dan social skill. Menurut penelitian yang dilakukan oleh Daniel Goleman, beliau menemukan bahwa intelektualitas adalah alat penggerak untuk menghasilkan kinerja yang luar biasa, cognitive skill adalah kemampuan menemukan visi dan berpikir dalam ruang lebih besar juga penting. Tetapi ketika beliau menjumlahkan ratio dari technical skills, IQ sebagai resep bagi kinerja terbaik, EQ terbukti 2 kali lebih penting dibandingkan komponen lain pada setiap level pekerjaan apapun.
Emotional Intelligence memang bisa dipelajari tetapi menurut beberapa ahli, menyimpulkan bahwa kemampuan EQ seseorang akan semakin meningkat seiring bertambahnya usia. Tetapi ada beberapa orang yang memerlukan pelatihan untuk meningkatan EQ nya. Untuk meningkatkan kemampuan EQ, organisasi harus memfokuskan pelatihan dengan menambah system Limbic. Organisasi harus membantu anggotanya meninggalkan kebiasaan lama yang dirasakan menghambat efektivitas dan mengubahnya untuk menemukan kebiasaan baru yang mendukung kinerja lebih baik. Dalam perubahan ini biasanya membutuhkan waktu yang tidak sebentar selain itu juga memerlukan pendekatan secara individual terhadap setiap anggota. Dengan ketahanan mental yang baik dan latihan terus menerus, proses tersebut akan berjalan dan memberi hasil yang maksimal. Bagaimana dengan mereka yang sudah menjadi manajer atau executive perusahaan, akan sulit untuk mengubah kebiasaan mereka karena sudah merasa memiliki jabatan yang lebih tinggi dan memiliki kebebasan yang lebih luas dibandingkan anggota organiasasi lainnya. Seorang manajer baik level bawah,menengah atau atas harus membiasakan diri bersikap empati dan mau menerima umpan balik dari bawahannya, bagaimana melihat sesuatu dari sudut pandang bawahannya tidak hanya demi keuntungan dirinya tetapi lebih berorientasi pada sesuatu yang bersifat membangun seluruh anggota organisasi demi keberhasilan bersama. Menjadi empati membutuhkan usaha yang kuat karena sulit untuk dipelajari, antusiasme seseorang akan menjadi salah satu kunci sukses dalam pencapaian ini.
Dibawah ini akan dibahas lebih dalam tentang beberapa komponen dalam EQ:
SELF-MANAGEMENT SKILLS:
1. Self-Awareness
Self-Awareness berarti memiliki sebuah pemahaman yang lebih mendalam terhadap emosi dalam diri, kekuatan, kelemahan ,kebutuhan dan apa yang mampu menggerakan dirinya sendiri. Ketika seseorang memiliki Self-Awareness yang tinggi, ia akan bersikap jujur terhadap dirinya sendiri dan juga orang lain, ia juga akan mengenali bagaimana suasana hati sangat berpengaruh bagi dirinya, orang lain dan kinerja semua orang. Self-Awareness akan meningkatan pengetahuan seseorang tentang tujuan hidupnya dan nilai-nilai yang selama ini dianutnya. Ketika orang memiliki tingkat Self-Awareness yang tinggi,dia mampu berbicara secara lebih terbuka dan akurat tentang emosinya saat itu dan dampaknya terhadap pekerjaanya. Ia akan menganggap setiap kritik sebagai sesuatu yang membangun dan mengetahui secara pasti dimana kelemahannya berharap ada rekan kerja yang bisa membantunya. Kemampuan seseorang dalam Self-Awareness bisa dilihat dari kepercayaan dirinya. Berani mengambil resiko tetapi tidak akan berspekulasi terhadap masalah yang di luar kemampuannya. Mereka yang sudah menjadi executive atau manajer biasanya sulit untuk menerima umpan balik dan hal inilah yang hingga saat ini menjadi permasalahan besar dalam perusahaan ketika mereka yang berkuasa merasa tidak bisa dibantah dalam hal apapun.
2. Self-Regulation
Secara biologis,ada sesuatu yang menggerakan emosi kita, kita tidak dapat mengabaikannya, tapi kita bisa mengendalikannya. Self-Regulation seperti berbicara dengan diri sendiri, merupakan komponen dari EQ yang membebaskan kita dari perasaaan yang selama ini memenjarakan kita. Self-Regulation membuat kita mampu mengendalikan perasaan dan suasana hati yang selama ini mempengaruhi kinerja kita. Mereka yang memiliki kemampuan ini akan menggunakan kata-kata secara hati-hati dalam menasehati bawahan maupu rekan kerja mereka, memperbaiki kinerja yang buruk tanpa harus menyalahkan pihak manapun dan mampu mengevaluasi untuk mencari penyebab kesalahan kerja yang terjadi. Ada beberapa alasan mengapa self-regulation begitu penting dalam kepemimpinan: Pertama, orang-orang yang mampu mengendalikan perasaannya adalah orang-orang yang bisa menciptakan lingkungan kerja yang penuh kepercayaan dan keadilan. Hal ini akan mengurangi perselisihan yang terjadi dan meningkatan produktivitas kerja karyawan. Kedua, self-regulation penting untuk alasan kompetitif, semua orang tahu saat ini bisnis dipenuhi oleh ambiguitas dan perubahan. Mereka yang ahli dalam mengendalikan emosi mereka akan bertahan dalam setiap perubahan, mereka tidak panik ketika ada system atau kebijakan baru dalam tempat kerja mereka bahkan kadang-kadang mereka akan lebih cepat beradaptasi. Self-regulation meningkatan integritas seseorang, demi memperkuat posisi perusahaan. Tanda-tanda seseorang memiliki emosional self-regulation mudah dilihat, biasanya kecenderungannya adalah merefleksikan setiap kejadian, dan penuh pemikiran, bisa menghadapi ambiguitas dan perubahan dengan baik, dan memiliki integritas. Tapi terkadang orang-orang yang mampu mengendalikan emosinya terlihat dingin dan tidak bergairah. Karena mereka cenderung menutupi suasana hatinya di hadapan orang lain.
3. Motivation
Motivasi merupakan penggerak utama dalam pencapaian di atas ekspektasi. Kata kunci di sini adalah pencapaian. Dengan adanya motivasi manusia lebih menghargai proses untuk mencapai sesuatu yang diinginkan. Motivasi di sini lebih dari sesuatu yang bersifat material yang menggerakan manusia tapi lebih ke kesediaan untuk melakukan sesuatu demi kemajuan diri dan orang lain. Biasanya orang-orang yang memiliki motivasi tinggi adalah orang-orang yang suka dengan tantangan, mencintai pembelajaran, dan merasa puas dan bangga atas hasil yang bisa diraih dengan susah payah. Mereka menggunakan energinya untuk sesuatu yang berguna. Mereka tidak hanya memiliki motivasi ketika ada penguat-penguat tetapi karena mereka suka akan pencapaian sesuatu dengan kesungguhan hati. Orang-orang yang selalu termotivasi untuk melakukan sesuatu dengan lebih baik biasanya menunjukkan kemajuan secara cepat dalam bekerja. Dan yang menarik, seseorang yang memiliki motivasi tinggi tetap optimis walaupun ada halangan yang berat di hadapan mereka. Adanya Motivasi yang dikombinasikan dengan Self-regulation tidak akan membuat seseorang menyerah karena frustasi dan depresi akibat tujuan yang tidak tercapai. Para manajer biasanya menguji tingkat motivasi pencapaian bawahannya dengan satu bukti yaitu komitmennya terhadap perusahaan. Mereka yang berkomitmen akan tetap berada di perusahaan meskipun ada tawaran gaji yang lebih baik dari perusahaan lain.
THE ABILITY TO RELATE TO OTHERS
4. Empathy
Empati tidak berarti kita harus mengadopsi dan menerima suasana hati orang lain untuk diri kita sendiri dan mencoba untuk membuat orang lain senang. Hal ini malah akan menghancurkan kita. Empati lebih baik berarti penuh pemikiran dalam mempertimbangkan perasaan orang lain, dengan adanya factor lain dalam proses membuat keputusan yang terbaik. Kemampuan berempati sangat penting dalam usaha untuk mempertahankan karyawan yang berprestasi dengan baik. Empati juga sangat dibutuhkan dalam kerja tim, dalam era globalisasi yang sangat cepat dan kebutuhan untuk mempertahankan mereka-mereka yang berbakat dalam tim. Seorang pemimpin dalam tim harus mampu merasakan dan memahami sudut pandang orang lain. Pemimpin harus mendorong anggotanya untuk berbicara lebih terbuka tentang permasalahan mereka dan membantu orang lain untuk memandang sebuah kritikan sebagai sesuatu yang membangun diri mereka. Pada akhirnya,empati memainkan peran penting dalam mempertahankan mereka yang bertalenta. Pemimpin perlu memiliki sikap empati untuk mengembangkan dan mempertahankan pekerja yang berprestasi. Biasanya pelatih dan mentor yang hebat mengetahui isi kepala dari orang-orang yang mereka bantu, mereka paham bagaimana memberikan umpan balik yang efektif. Mereka tahu kapan harus mendorong anggotanya memberikan kinerja yang lebih baik dan kapan harus mempertahankan kinerja yang sudah baik.
5. Social Skill
Social skill adalah kemampuan untuk mengendalikan atau mengatur suatu hubungan dengan orang lain. Mereka yang memiliki social skill tinggi mampu menggerakan orang lain sesuai keinginan mereka, sangat focus pada tujuan bersama. Social skill adalah bentuk kulminasi dari lain dimensi tentang EQ. Mereka yang memiliki social skill bisa dengan efektif mengatur hubungan ketika mereka mengerti dan mengendalikan emosi mereka sendiri dan dapat berempati dengan perasaan orang lain. Mereka yang memiliki keahlian ini adalah seorang ahli dalam hal persuasive atau mempengaruhi orang lain, seorang kolaborator yang handal, semangat dan gairahnya menyebar dan mempengaruhi orang lain dan orang lain menjadi terdorong untuk bersama-sama mencari solusi permasalahan. Social skill adalah kunci untuk menjadi seorang pemimpin hampir di semua organisasi. Orang-orang mengetahaui secara intuitif bahwa seorang pemimpin perlu untuk mengatur hubungan dengan anak buahnya secara lebih efektif. Pekejaan bisa diselesaikan secara bersama-sama dan pemimpin yang memiliki social skill bisa menciptakan kondisi di mana bawahannya bisa bekerja sama dengan baik. Motivasi yang tinggi dari seorang pemimpin tidak akan berguna jika ia tidak mampu mengkomunikasikan rasa antusias dan gairahnya pada organisasi. Social skill memberikan jalan bagi pemimpin untuk bisa memanfaatkan EQ nya demi keberhasilan organisasi.
5 Oktober 2008
Regards,
Satria
apik2, koq tumben kamu pinter, tapi orang2 yang bisa menguasai semua komponne EQ tu mengerikan ya—-mereka bisa dengan gampang ngendaliin orang lain sesuai dengan keinginan mereka—-dan gag semua dari mereka itu baik–aq sempet nangkep kata-kata kalo orang tu bisa jadi dingin-kebayang mereka jadi robot soalna mereka bisa mengatur intensitas perasaan mereka–dan mungkin bisa diatur sampek kadar 0-tanpa perasaan–
saya ingin memberikan anda 1 ticket free untuk seminar leadership, untuk download undangan silahkan liat : http://arylangga.blogspot.com.
untuk registrasi : melalui tlp : 021-429 00070 atas nama erna atau kirim sms ke : 0888 426 0063 , ketik : nama, sesi 1/2